Secuil Uneg-Uneg Pembaca/Penerjemah

Secuil Uneg-Uneg Pembaca/Penerjemah

“Kenapa enggak bisa happy saja sih, ada toko buku baru, punya siapa saja, itu kan patut dirayakan? Apalagi di zaman darurat membaca (buku) seperti sekarang…” begitulah kurang lebih respon dari beberapa warganet, pas aku pernah nge-tweet menyindir perkara si gurita super besar di industri perbukuan konoha yang saat itu baru saja membuka toko buku mungil di salah satu cabangnya di Jakarta. Keren kan, bookstores-ception. 😎

Kenapa sih aku sayang banget dengan penerbit dan toko buku independen (indie)? Ada jawaban personal dan sederhana: karena berkat penerbit-penerbit indie (Marjin Kiri, Penerbit Anagram, Moooi Pustaka) dan toko-toko buku indie (POST, Bawabuku, DemaBuku, Dialektika, Perjamuan Buku dan resellers lain), aku yang berawal dari teramat hijau dalam urusan penerjemahan fiksi ini, jadi mendapatkan kesempatan dan dukungan untuk melakukan dan belajar suatu hal baru, yang ternyata aku cukup mampu (dan amat senang) buat melakukannya. Merekalah penerbit yang tak segan untuk meletakkan nama-nama penerjemah —meski bukan penerjemah/penulis kondang— di sampul buku. Merekalah toko buku serta resellers yang memberi ruang agar buku-buku penerbit indie ini bisa bertemu dengan calon-calon pembaca, sudah begitu mereka juga rajin merayakan para penerjemah. Ada kah penerbit dan toko buku besar yang konsisten melakukan hal-hal itu? 

Sejak menjadi pekerja lepas penerjemahan ini, aku mulai kenal semakin banyak orang di balik layar industri perbukuan —meski ya enggak banyak-banyak banget juga— tapi sudah cukup bikin aku menyebrang dari satu titik menjadi pembaca doang ke titik lain menjadi pembaca yang bisa berjarak lebih dekat dengan beberapa hal yang terjadi di balik layar. Di titik baru inilah aku menyadari bahwa enggak semua pembaca memiliki pengalaman sama denganku, jadi aku cukup mengerti kenapa bermunculan anggapan bahwa aku ini party pooper pas menyindir si gurita super besar itu. Padahal guritanya sendiri enggak peduli-peduli amat lho dengan sindiran dari remah-remah debu seperti kita ini. Nah itulah, alasan lain aku lebih memilih untuk memprioritaskan kepedulianku ke lini UMKM di industri perbukuan ini: solidaritas para remah-remah debu. 😂

“Harapanmu apa sih, trid, pengen si gurita super besar lenyap dari industri ini?” Wow, utopis banget enggak sih, jadi bikin teringat kutipan “…lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada membayangkan akhir kapitalisme,” kalau diseret untuk konteks ini: lebih gampang membayangkan Indonesia bubar tahun 2045 dibandingkan membayangkan si gurita bangkrut enggak sih? Salah satu harapanku, yang mudah-mudahan enggak terlalu muluk-muluk: semoga semakin banyak pembaca buku yang berminat, mau tahu dan peduli dengan berbagai aspek dari ekosistem ini, baik elemen industri maupun non-industrinya. Menurutku, kepedulian itu bakal cukup jadi pemantik suatu efek domino demi lebih menyehatkan ekosistem ini. Meski efeknya harus pelan bagai siput berjalan entah ke mana pun dia mesti pergi.

Ekosistem perbukuan yang sehat itu memang bentuknya bagaimana? Seringkali aku perhatikan, saat membicarakan industri perbukuan, beberapa orang menjadikan negara-negara lain (aku pun pernah) sebagai referensi: “di Singapura begini nih, di Jepang begitu, dst.” Kemudian biasanya kesimpulan bakal sampai ke: “oh, pemerintah konoha absen sih, dari hulu ke hilir. Enggak ada subsidi harga kertas untuk buku, enggak ada subsidi jika suatu percetakan mengimpor mesin cetak. Enggak ada bentuk dukungan dalam distribusi buku ke luar Pulau Jawa, misal, biar harga ongkir bisa lebih terjangkau…” dan seabrek poin keabsenan konoha. Pada akhirnya semua itu membuat logika pasar bisa bermain dengan adem ayemnya di industri ini, “siapa pemilik modal paling banyak, itulah yang terjamin bakal panjang umur,” survival of the fittest. Menurutku, inilah ekosistem yang kurang sehat itu, membiarkan logika pasar menyetir segala sendi industri dan non-industri.

Ketika pilihan buku yang tersedia untuk pembaca hanya didikte oleh permintaan pasar, akhirnya beberapa pelaku industri akan lebih sibuk berlomba-lomba menebak dan menuruti permintaan pasar atau selera pasar. Dan berbagai variabel pembentuk selera pasar inilah yang menjadi wahana banyak orang di dalam ekosistem —pembaca, penulis, pemilik, pekerja tetap/kontrak/lepas penerbit dan toko buku— untuk menentukan arah selera pasar. Meski tentu bobot pengaruh masing-masing pihak tersebut sama sekali tidak setara.

Contoh pertama: ada penerbit-penerbit yang bisa mempekerjakan satu tim khusus untuk pemasaran, ini berarti mereka punya sekelompok orang (> 1 orang) yang bisa memusatkan waktu & tenaga mereka untuk brainstorming segala macam strategi pemasaran, lalu mampu mengeksekusi berbagai strategi itu, menanggung segala kemungkinan rugi dll. Sedangkan penerbit lain, mungkin yang mengurus pemasaran hanya 1 orang, atau bisa jadi pemasaran adalah aspek yang ia perlu pikirkan dan kerjakan dengan tanggung jawab lain (alias palugada), jadi ini jelas bakal berbeda pengaruhnya dengan yang sebelumnya. 

Contoh kedua: ketika seorang pembaca dengan platform online cukup besar, seorang Key Opinion Leader (KOL), merekomendasikan buku A, imbas ke hasil penjualan buku A kemungkinan besar bakal berbeda dibandingkan ketika seorang warganet non-KOL merekomendasikannya. Apalagi dengan penggunaan media sosial yang amat besar di Indonesia, dan mengutip dari salah satu cuitan Kak Aan Mansyur, “…nkri itu i-nya influencer…,” sulit buat mengelak bahwa para KOL ini turut memengaruhi penjualan atau mampu membentuk selera pasar.

Contoh ketiga: saat ada satu novel seorang penulis dengan tema, gaya dan formula tertentu berhasil masuk daftar best seller, penulis tersebut, dan enggak jarang juga penulis-penulis lain yang melihat kesuksesan itu —entah oleh dorongan penerbit, atau demi rasa aman secara finansial— kemungkinan besar bakal terdorong buat mengulangi formula yang sama, sekadar mengubah beberapa elemen cerita saja. Alhasil, lama-kelamaan rak-rak toko buku pun dibanjiri oleh variasi dari formula yang sama, sementara karya-karya dengan tema, gaya, dan formula berbeda harus berupaya lebih keras untuk ikut terpajang.

Dan tentu saja masih banyak contoh-contoh lainnya. 🥹

Di dalam kubangan ekosistem yang kurang sehat ini, pembaca lewat preferensi dan daya beli kita —meski dengan bobot pengaruh yang tak sebegitu besar dibandingkan bagian lain dari ekosistem— bisa turut membentuk arah selera pasar juga. Inilah alasan dari harapanku tadi, siapa tahu ketika perbincangan dan kepedulian semakin banyak pembaca bukan sekadar tentang buku-buku yang kita suka atau benci, tapi melebar juga ke persoalan berkaitan dengan ekosistem perbukuan, maka kita, para remah-remah debu ini, bisa lebih saling menopang. Karena menurutku, yang terpenting bukan cuma soal selera baca, tapi juga soal keberlangsungan mereka yang berani ambil resiko menghadirkan ruang untuk buku-buku yang masih jauh dari selera pasar. 💚